Di Usia 80 Tahun Indonesia Merdeka, Dua Dusun di Tanjung Lebar Masih Hidup dalam Kegelapan


MUARO JAMBI Di tengah perayaan 80 tahun kemerdekaan Indonesia dan gencarnya pembangunan infrastruktur di berbagai daerah, kenyataan berbeda justru dialami ratusan warga di Desa Tanjung Lebar, Kecamatan Bahar Selatan, Kabupaten Muaro Jambi.

Sebanyak dua dusun di desa tersebut hingga kini masih hidup tanpa aliran listrik dari PLN. Ironisnya, infrastruktur berupa tiang listrik telah berdiri sejak tahun 2015, namun lebih dari satu dekade berlalu, listrik tak kunjung mengalir ke rumah-rumah warga.

Kondisi ini semakin kontras karena dusun tetangga yang berjarak hanya sekitar 500 meter telah lebih dulu menikmati listrik sejak bertahun-tahun lalu. Perbedaan mencolok ini menimbulkan tanda tanya besar terkait pemerataan pembangunan dan realisasi program elektrifikasi di wilayah tersebut.

Sekitar 600 kepala keluarga terdampak situasi ini. Saat malam tiba, warga terpaksa bergantung pada genset dan lampu tenaga surya dengan daya terbatas yang hanya mampu bertahan beberapa jam. Suasana malam pun sunyi tanpa penerangan memadai, bahkan akses informasi melalui televisi, radio, hingga internet hampir tidak tersedia.

Ketua RT 10 Desa Tanjung Lebar, Hamidi, mengungkapkan kekecewaan warga atas kondisi yang tak kunjung berubah.

“Tiang listrik sudah lama berdiri, tapi hanya jadi pajangan. Listrik tidak pernah menyala. Kami terpaksa menggunakan genset dengan biaya mahal. Ini sangat membebani warga,” ujarnya.

Ia menilai, keberadaan tiang listrik tanpa aliran daya menunjukkan adanya pembangunan yang tidak dituntaskan secara menyeluruh. Warga pun merasa terabaikan di tengah gencarnya program pemerataan listrik nasional.

Minimnya listrik berdampak langsung pada kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat. Aktivitas warga menjadi terbatas, sementara anak-anak kesulitan belajar pada malam hari.

Samuti, seorang ibu rumah tangga, mengaku harus menjalani aktivitas rumah tangga dalam keterbatasan setiap malam.

“Kalau malam kami memasak dengan lampu seadanya. Anak-anak belajar pakai lampu minyak. Sangat sulit, apalagi kalau bahan bakar habis,” tuturnya.

Selain itu, keterbatasan listrik juga berdampak pada akses komunikasi. Sinyal internet sulit dijangkau, membuat warga semakin tertinggal dalam memperoleh informasi di era digital.

Hingga kini, belum ada kejelasan dari pihak terkait mengenai penyebab belum tersambungnya aliran listrik ke dua dusun tersebut, meskipun infrastruktur dasar telah tersedia sejak lama.

Warga berharap pemerintah daerah dan pihak PLN segera mengambil langkah konkret untuk menyelesaikan persoalan ini. Mereka tidak menuntut lebih, hanya berharap mendapatkan hak yang sama sebagai warga negara: menikmati penerangan listrik yang layak.

“Jangan sampai kami terus hidup dalam gelap, sementara yang lain sudah terang. Kami hanya ingin diperlakukan sama,” harap warga.

© Copyright 2022 - Redaksijambionline.com