Page Nav

HIDE

Grid

GRID_STYLE

Classic Header

{fbt_classic_header}

Top Ad

//

Breaking News:

latest
www.shopedia.co.id

Bencana karhutla: Pemimpin sibuk mendaftarkan diri calon gubernur

kabut asap di Kumpeh Jam 12.30 WIB/Foto:BTP Miris tentunya beberapa hari kebelakangan langit tidak lagi biru. Bahkan warnya memerah s...

kabut asap di Kumpeh Jam 12.30 WIB/Foto:BTP

Miris tentunya beberapa hari kebelakangan langit tidak lagi biru. Bahkan warnya memerah seperti sexinya bendera partai PDI-P Nan-Merah.

Bencana asap ini malah menjadi tontonan bagi kaum elit. Mereka tidak bersatu padu menyelesaikan persoalan ini. Sebaliknya mereka berbondong-bondong mendaftarkan diri menjadi Bacagub di PDI-P. Mulai dari Fahrori Umar (Gubernur sekarang), Syarif Fasha (Walikota Jambi), C. Endra (Bupati Sarolangun), Alharis (Bupati Merangin).

Ada apa dengan ini?
Menggunakan pendekatan Robert Michles (1984) tentang "Political Parties: A Sociological Study of the Oligarchical Tendencies of Modern Democracy" menyatakan partai politik harus mengedepankan Moralitasnya dalam modernisasi untuk mengelakkan terjadinya oligarki dan hukum besi oligarki. Menurutnya lagi ada dua hal penting yang harus diutamakan:
1. Jenjang organisasi yang tertip yaitu berorganisasi merupakan prasyarat mutlak dan hakiki bagi setiap perjuangan politik.
2. Kaderisasi. Tertipnya satu organisasi ketika terbentuknya proses kaderisasi dalam struktur partai politik.
Pandangan di atas jika dihubungkan dengan pencalonan gubernur ianya tidak memiliki kaitan sama sekali. Semua calon yang mendaftar ke PDI-P menunjukkan perilaku kegamangan politik dan ketidak percayaan diri sebagai kader partai politik.
Kenapa?
Kesemua calon yang mendaftar adalah kepala daerah. Bahkan seorang gubernur tidak yakin dengan partainya dan posisinya sebagai seorang gubernur. Ini dapat dikatakan sebagai gejala "Kegelapan Personalisasi" mereka tidak yakin dengan dirinya dan partainya.
Jika ditarik benang merahnya tentu sikap para elit ini adalah contoh dari kegagalan partai politik dalam membentuk kaderisasi.
Sikap ini tentu mempertontonkan kepada masyarakat bahwa ini adalah bencana demokrasi. Di mana posisi dan jabatan mesti diutamakan, meski dengan cara mendaftarkan diri ke partai lainnya. Itu lah yang dikatakan Michles (1984) sebagai tendensi oligarki. Sekelompok orang atau individu mencoba mempertahankan kekuasaanya dengan cara apa pun.
Lalu apa kaitanya dengan bencana asap. Sebagai rakyat Jambi, saya miris melihat perilaku para elit ini yang lebih mengutamakan kekuasaanya daripada menyelesaikan persoalan asap ini.
Akan tetapai saya juga menyadari dalam perilaku politik tujuan utama adalah kekuasaan. Hakikinya kekuasaan adalah satu kenikmatan. Maka bencana sosial adalah tontonan.
Selamat berduka rakyat Jambi

Dori Efendi, P.hD (Direktur Gentala Analisis dan Riset)

No comments

shopedia.co.id